Sudah lebih sebulan terakhir ini eyang putri-ku mengalami sakit. Dari diagnosa dokter yang pertama, berdasarkan hasil rontgen, didapatkan ada [semacam] batu ginjal di ginjal sebelah kiri, setelah menjalani pengobatan selama kurang lebih satu hingga satu setengah minggu, dilaukan kontrol ulang, hasilnya ? sangat mengejutkan. Tidak ditemukan adanya batu ginjal, melainkan salah satu tulang mengalami keretakan.
So …. what the hell is going on between those doctors ?? Perlu diketahui bahwa dokter yang melakukan analisis untuk pertama kalinya berbeda dengan dokter yang melakukan analisis pada saat check up. Memang sih, setelah pengobatan pertama pihak dokter memberikan berbagai obat untuk mengatasi [yang konon merupakan] gangguan ginjal tersebut. Tapi saya agak sangsi dengan analisis yang dilakukan oleh dokter pertama, hal ini dikarenakan rasa sakit yang timbul tersebut diakibatkan oleh [mungkin] benturan fisik yang dialami saat perjalanan beberapa waktu yang lampau. IMHO, Kalau misal itu gangguan ginjal, saya yakin sekali sakit yang ditimbulkan bukanlah nyeri hebat dan perasaan semacam tertusuk, melainkan susah kencing, dan sebagainya.
Proses sakit eyang putri tersebut diawali semenjak perjalanan ke kota Jogja beberapa waktu lampau untuk mengunjungi saudara yang menikah. Karena saudara tersebut sudah lama sekali tidak dikunjungi, keluarga kami memutuskan untuk mengunjungi mereka saat prosesi pernikahan tersebut. Kebetulan saya sendiri yang mengantarkan eyang putri menggunakan bis. Pemilihan bis dikarenakan kepraktisan, karena setelah smpai di Jogja akan ada saudara yang menjemput. Selain itu tempat tinggal kami di Semarang sangat dekat dengan salah satu agen bis tersebut [ya.. paling lima menit jalan kaki lah..].
Lokasi saudara kami terletak di salah satu desa di daerah Ngentak Rejo. Kira - kira 20-30 kilometer ke arah wates. Perjalanan ke sana dari Jogja biasanya menggunakan bis mini, kemudian disambung menggunakan ojek, atau menggunakan taksi dari jogja. Bis tidak bisa melewati area tersebut karena jembatan yang digunakan untuk menyeberang sungai [kelihatannya nama sungainya Wates deh] sedang rusak [sudah lebih 2 tahun rusak nggak beres2 mbangunnya.. huh !! dasar pemerintah suxx !!!!]. Jadi sementara menggunakan jembatan darurat yang hanya bisa dilewati satu mobil sekali jalan, jadi ya.. menggunakan metode buka-tutup.
Waktu perjalanan pulang, eyang putri dan saudara-saudara perempuanku diantar hingga ke perbatasan jogja, kemudian mereka menggunakan bis kecil ke arah terminal. Dalam perjalanan, ada orang gila [menurut penuturan eyang putri sih masih anak2 muda, kalo gak kuliahan ya abegeh lah..] yang masuk ke area jalan besar pake motor, boncengan, dan gak liat-liat kondisi. Langsung aja maen tikung. Hasilnya ?? bis terguncang dengan hebat, bahkan adikku tersungkur jatuh [mereka semua duduk di baris paling belakang]. Kejadian tersebut membuat eyang putri terhempas ke depan. Alhamdulillah saat kejadian tersebut tidak ada orang yang celaka [jujur saja, saya mengharapkan begundal yang naik motor tersebut ketabrak saja sekalian, lumayan, mengurangi SAMPAH masyarakat di Indonesia].
Sesampainya di rumah kondisi eyang putri tidak ada masalah, namun beberapa hari setelah itu, sepertinya gejala-gejala sakit nyeri di bagian punggung sudah mulai terasa. Setelah kejadian itu, eyang putri mengurangi aktivitasnya sehari-hari. Kalau dibonceng menggunakan motorpun harus pelan-pelan. Analisis salah satu dokter keluarga kami [dokter Hatta yang berpraktek di Bugangan] tidak menyebutkan hal - hal yang kurang lazim, eyang putri hanya diberi obat jalan dan dianjurkan untuk beristirahat. Namun ada salah satu kejadian yang membuat sakit eyang putri bertambah parah. Suatu waktu eyang putri menggunakan jasa salah satu tukang becak. Si tukang becak sudah diwanti-wanti supaya pelan, karena kondisi fisik saat itu sedang tidak bagus. Ehh.. tuh tukang becak juga GILA !! tetep aja jalannya ngawur, bahkan salah satu jalan yang berlubang malah becaknya seperti dihempaskan. Kontan saja waktu eyang putri marah, karena saat itu juga nyerinya langsung kumat, bahkan bertambah hebat. Sayang sekali aku waktu itu sedang tidak ada di tempat, kalau sampai waktu itu ketemu me tukang becak keparat itu udah aku hajar sampe ancur. Kurang ajar banget..
Semenjak insiden becak tersebut hingga saat ini [kurang lebih sekitar satu bulan] kondisi eyang putri masih belum membaik. Sudah diperiksakan ke dokter dan diagnosa terakhir hingga saat ini masih berupa retak tulang tersebut. Pihak dokter hanya memberikan obat untuk mengurangi nyeri, kelihatannya kalau sudah retak tulang, pihak medis hanya bisa menyerahkan sepenuhnya pada kemampuan metabolisme dari si pasien untuk menyembuhan sel-sel tulang yang rusak tersebut.
Sebenarnya eyang putri terbiasa memeriksakan diri ke salah satu dokter. Namanya dokter Andi Maleachi. Dia dokter yang sangat senior dan sangat baik. Selama ditangani oleh dokter Andi, eyang putri selalu mendapatkan diagnosa yang bagus dan obat yang sesuai, so far so good lah… Intinya adalah dokter Andi sudah dirasa cocok oleh eyang putri. Namun selama dua minggu terakhir ini sangat susah dihubungi, entah karena alasan apa, barusan dikonfirmasi bahwa dia kali ini cuti praktek dari RS. Pantiwilasa. Berarti kemungkinan terdekat adalah besok selasa ketika dia praktek di RS. Telogorejo.
Saya sangat trenyuh ketika mendampingi eyang putri beberapa hari ini. Dia sangat berharap dapat berobat ke dokter Andi tersebut, namun entah kenapa selalu saja dokter tersebut tidak bisa ditemui. Bahkan baru saja eyang putri sampai menangis waktu saya katakan bahwa dokter Andi tidak bisa praktek dikarenakan cuti. Ya.. dokter juga manusia, dia juga punya berbagai kepentingan, tapi kalau misal ada pasien yang sangat membutuhkan pertolongannya, apakah dia bisa menolaknya ? Saya belum pernah jadi dokter, tapi saya sadar sepenuhnya semenjak kejadian ini, bahwa dokter memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar di masyarakat. Baik diminta ataupun tidak. Bagaimana ya dengan kondisi dokter-dokter di daerah pedalaman ? Kondisi mereka pasti sangatlah berat.
Sebagai tambahan, usia eyang putri hingga saat ini adalah 72 tahun. Ya, tujuh puluh dua tahun. Dan sebelum sakit kali ini, dia masih sangat aktif, bangun subuh, masih bisa dagang di toko mulai jam 8 pagi hingga kira2 isya, setelah itu juga masih ngaji di rumah kadang-kadang hingga larut malam. Kalau minggu selalu ke pasar [aku antar sendiri], kita belanja, masak, makan bareng-bareng. She’s a GREAT WOMEN ever be in my whole life. Nothing compared to her. Saya tinggal bareng eyang putri semenjak beberapa tahun belakangan ini. Kita hanya tinggal berdua, hal tersebut membuat kedekatanku dengan eyang putri lebih dibanding saudara-saudaraku lainnya, termasuk orang tuaku sendiri. So, aku juga concern lebih dibanding saudara-saudaraku terhadap kesehatannya.
Mohon bantuan doa buat rekan-rekan semuanya, semoga sakit eyang putri ini lekas diberi kesembuhan. Terima kasih sebelumnya.

January 14th, 2006 at 6:40 pm
permisii
January 15th, 2006 at 7:35 am
nge junk nggak??
ah cepet sembuh deh…
January 16th, 2006 at 10:12 am
Eyangnya harus sebih diperhatikan,
Pagi siapin teh Ijo+ Jeruk nipis,
jangan sampai kena daging jeroan….
January 16th, 2006 at 11:46 am
permisi numpang sepam:
sudah coba akupuntur (tusuk jarum) di daerah jagalan? di keluarga saya, akupuntur tsb terbukti manjur.
-semoga lekas sembuh-
January 18th, 2006 at 4:09 pm
neneknya beliin susu coklat biar sehat
moga neneknya cepet sembuh…
*minum susu coklat enget pake gelas ungu*
January 19th, 2006 at 9:19 am
Yang sabar ya Dik, kurangin ngejunk ama kopdaranya dong! jagain Mbahnya
, Semoga beliau cepat sembuh dan cepat sehat
January 19th, 2006 at 7:12 pm
ok pren..
makasih buat semuanya
June 12th, 2006 at 9:48 am
sury dix baru buka bukumu hari ni. aku pernah ngalamin crita yg hampir sama kaya eyangmu. critanya sobat sma ku yg mengalami sakit yg sama karena hal sepele. waktu itu cuma jatuh kepleset karena ujan kondisi pada waktu itu ga papa sih. beberapa hari kemudian ato seminggu kemudian temenku ngalamin sakit yg luar biasa di daerah perut dan sekitarnya.diagnosa dokter di semarang macem2 ada yg mengatakan sakit A,B,C….Z tapi semuanya hanya perkitaan dokter sampe mondok di telogorejo 2.5 mingguan penyakitnya belum sembuh. Akhirnya keluarga memutuskan selesai perawatan saja karena penyakitnya ga sembuh dan dibawa pulang ke jakarta serta diobati di jakarta. Busyeeetttt….. setelah manjalani perawatan di jakarta (waktu itu di rs mana saya lupa dan ada tim dokter bule yg mendiagnosa ternyata sakitnya fatal gara2 jatuh sepele saja) TULANG EKOR retak !!!!! Goblog banget dokter Indonesia ternyata, padahal udah melakukan berbagai pemeriksaan dari rontgen, ct scan ampe dll ga ketemu penyakitnya. Untungnya dokter dari jkt bilang masih bisa diselamatkan, kalo sampe telat akan fatal selamanya dan jadi kelumpuhan. Finally akhirnya sobatku sempat menjalani berbagai macam terapy yg begitu melelahkan, membosankan dan menyakitkan dan Alhamdulillah dengan dukungan dan semangat keluarga sekarang kondisinya sehat wal afiat
February 6th, 2007 at 5:03 pm
salam kenal sebelumnya… terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi nenek mas Ahmadi.. semoga segera mendapatkan pertolongan yang tepat… sangat menderita lho.. sakit kalo ndak sembuh2 juga nambahin stress dan stress nambahin sakit… semoga cepet sembuh eyang… amin.