Innalillahi wa inna ilaihi roji’uunn
Baru saja dapat kabar dari rumah, mbah putri wafat. Setelah sekian puluh tahun berjuang demi kebaikan orang - orang yang melingkupinya, terutama segenap keluarga besar Abu Yahmin, dan tak lupa keluarga-keluarga lainnya. Dalam usianya yang mendekati 70 tahun, mbah putri mewariskan hal yang sangat bernilai, tak dapat dibandingkan dengan materi apapun di segenap penjuru dunia, mbah putri menawarkan kehangatan sejati seorang wanita, pengayom yang tegar bagi seluruh keluarga, semangat untuk tetap maju dan bertahan apapun yang terjadi, selalu konsisten dan komitmen terhadap prinsip-prinsip yang dianutnya, mengajarkan kami semua untuk selalu taat terhadap agama, kelembutan yang berpadu dengan ketegasan, jiwa bisnis yang kental, dan banyak sekali hal - hal lain yang tidak bisa dituliskan satu persatu.
Sejak pertengahan kuliah (sekitar tahun 2001 - 2002) hingga menjelang keberangkatanku ke rantau sekitar 6 bulan lalu, aku tinggal berdua dengan mbah putri. Aku terbilang lebih dekat dengan mbah putri dibandingkan saudara-saudaraku, bahkan mungkin dengan orang tuaku sendiri. Setiap pagi mbah putri bangun jam 4 pagi, sholat fajar, mengaji, dilanjutkan dengan sholat shubuh, kemudian mulai masak air panas, dan buat wedang panas buat kami berdua. Aku terbilang bandel, menjelang akhir waktu shubuh baru bangun, itupun kebanyakan dibangunkan mbah putri. Setelah sholat shubuh, biasanya kami berdua ngobrol di meja makan, banyak sekali hal-hal dan petuah-petuah yang diberikan kepadaku dengan gayanya yang khas. Aku tidak akan pernah melupakan saat-saat tersebut. Setelah itu beliau mulai berangkat ke pasar, dan ke toko untuk berdagang (aku biasanya yang antar pakai motor). Beliau sudah berdagang semenjak sekian puluh tahun yang lalu, dimulai dari gerobak kaki lima di pinggir jalan mataram hingga dapat menempati toko sendiri di area Rejosari mungkin merupakan mukjizat bagi mbah putri. Perjuangan beliau selama hidup sudah sangat sering diceritakannya kepadaku, terutama saat-saat pagi hari sambil minum minuman hangat. Bahkan beliau dapat naik haji dan melakukan ibadah umrah dari sebagian hasil dagangnya. Beliau pulalah yang menjadi salah satu satu pilar sekaligus pengikat utama keutuhan keluarga kami. Selalu menyisihkan sebagian rizki yang didapatnya untuk zakat, sodaqoh dan berbagai pengajian di kampung dan kota kami. Tak terhitung berapa orang yang dimuliakannya, tak terbilang berapa orang yang kehilangannya, tek terukur besar pengorbanan dan keihlasan yang disalurkannya.
Perjuangan beliau melawan sakit kanker semenjak beberapa bulan lalu benar-benar hebat. Penyakit beliau sudah mulai terasa semenjak sekitar 10 bulan lalu, namun beliau masuk rumah sakit sejak 24 Januari 2006, tepat sebelum kepergianku ke Batam. Sudah 6 bulan semenjak semuanya berawal. Penyakit kanker yang diderita benar - benar parah, ditambah lagi analisis dokter yang terlambat terhadap penyakit utama membuat bibit kanker tersebut merambat ke seluruh tubuh. Trust me, melihat kondisi mbah putri saja aku enggak tega.
Kurang lebih bulan kemarin aku sempat pulang ke Semarang untuk menjenguk mbah putri, waktu itu kondisi mbah putri sudah parah, pinggang ke bawah sudah mati rasa, kata-kata yang diucapkannya juga tidak jelas lagi. Waktu itu hanya sempat meluangkan waktu empat hari untuk pulang, berat sekali rasanya waktu harus kembali ke Batam. Waktu itu aku sudah pamit, entah apapun yang terjadi aku minta semua keluarga ihlas dan tabah.
Semalam perasaanku benar - benar tidak nyaman, aku telepon agak lama ke rumah, menanyakan kabar mbah putri, sempat pula mbah putri berbicara beberapa patah kata, namun aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Benar-benar tidak menyangka bahwa semalam adalah pembicaraan terakhirku dengan beliau.
Katur sembah nuwun kagem panjenengan mbah, mugi-mugi tansah pinaringan rahmat saking Gusti Allah Kang Moho Welas Asih. Mugi-mugi tansah pinaringan lapang lanlonggar wonten alam kubur, mugi-mugi kulo panjengan sami saged kumpul sareng wonten Suwargi wancinipun esuk. Aamiinn..
Nyuwun pangapunten mbah, mbok bilih kulo boten saget nderekaken panjenengen dumateng sarean. Kula nembe saged wangsul sonten meniko. Boten usah kuwatir, kulo insya Allah wangsul kagem sowan dumateng panjenengan.

August 1st, 2006 at 11:49 am
turut berduka cita..
sama gwe jg pas mbahku ninggal gak bisa langsung pulang
August 1st, 2006 at 11:50 am
turut berduka cita ya mas akhmad
August 1st, 2006 at 12:09 pm
turut berduka cita…
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…
August 1st, 2006 at 12:18 pm
Turut berduka cita…
semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan…
August 1st, 2006 at 12:51 pm
Turut berduka cita…
semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan
August 1st, 2006 at 4:50 pm
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…
August 1st, 2006 at 6:32 pm
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…
Semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
August 1st, 2006 at 8:04 pm
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…
Tabah ya, Dik
duh… pas ke Semarang dulu tau gitu ketemuan ma mbah putri
August 1st, 2006 at 9:14 pm
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…
Turut berduka cita ya, Mas….
Yg tabah dan selalu berdoa..
:)
August 2nd, 2006 at 10:27 am
Kalo denger cerita lu, gw jadi mikir seandainya gw kenal sama nenek lu. Dan seandainya gw lebih dekat sama nenek gw
Best wishes for you…
August 2nd, 2006 at 12:49 pm
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…
Sabar… Tabah… Ikhlas… Ridho…
Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi ALLAH, amiin…
August 3rd, 2006 at 4:45 pm
Turut berduka ya mas Didik..
tabah aja ya..
August 5th, 2006 at 6:52 pm
Turut berduka cita sedalam-dalamnya..
August 6th, 2006 at 1:04 am
ikut berduka cita….
Dik, iki eyangmu sing mbiyen kuwi ta? Sing terakhir aku dolan bengi2 kae?
muga2 diparingi samudra welas asihing Gusti Allah… Amin.
August 7th, 2006 at 4:49 pm
turut berduka cita…
August 10th, 2006 at 6:35 am
turut berduka
August 11th, 2006 at 8:27 am
Turut berduka cita ya Dik. semoga diterima segala amalnya dan diampuni segala kekhilafannya. Amin
August 15th, 2006 at 8:59 am
wah,ga bisa bayangin klo ada kluarga yg meninggal…trs kita jauhan….
turut beduka dik….
sabar…..
August 23rd, 2006 at 6:11 pm
Turut berduka cita Dik.
Semoga arwah beliau dapat menerima Sih, Tuntunan dan Pepadang Utusan Allah Yang Sejati, Nur Muhammad,untuk kembali bertunggal dengan Sang Pencipta.