Minggu kemarin saya sempat pulang ke Semarang barang sejenak untuk menghadiri acara keluarga. Kebetulan ada teman-teman lama yang mengetahui hal tersebut dan rencananya saya diminta menjadi sponsor acara kumpul-kumpul. Yaaa namanya juga temen baik, sempat melewati masa-masa susah senang bersama, akhirnya saya menyediakan waktu, dan sedikit urun rogoh ATM. Setelah perbincangan beberapa waktu, ngobrol ngalor-ngidul sesuai mood dan apa yang tersirat di kepala, akhirnya ada beberapa topik yang berkaitan dengan budaya malas untuk mengamankan informasi penting, dalam hal ini adalah informasi akun ( account ), ID pengguna ( userID ), dan kata kunci ( password ), terutama di lingkungan bekerja.
Ada teman yang mengatakan bahwa di kantornya, proses absensi dilakukan dengan cara terlebih dahulu login menggunakan akun pribadi. Lha, kebetulan ada beberapa teman kantor dia yang sering titip absen, trus, bagaimana cara absennya ? Teman saya dititipi ID dan kata kunci oleh temannya. Nah lo, kok ?? Padahal ID dan kata kunci tersebut terintegrasi dengan berbagai informasi pribadi dan juga digunakan untuk mengakses berbagai hal yang sifatnya penting dan rahasia seperti gaji, riwayat hidup, data keluarga, dan sebagainya ( perusahaan tersebut mencoba menerapkan konsep single sign on dalam berbagai aplikasinya ). Keadaan ini tidak hanya diterapkan oleh satu atau dua orang, tapi juga oleh banyak sekali individu, dalam berbagai tingkat, bahkan individu di level managerial sekalipun. Untungnya teman saya tidak pernah dan ( katanya ) tidak akan pernah memberikan informasi akun dia kepada orang lain, karena dia paham mengenai konsep kerahasiaan ID dan kata kunci.
(more…)

11 Comments »