achmadi’s sanctuary: wherever I am, it’s gonna be my sanctuary

Choose a Topic:

Wed
15
Aug '07

Bacaan akhir pekan, About a Boy

Waktu akhir pekan yang agak panjang (biasanya saya sabtu juga masuk kantor, meskipun cuma sampai jam 12 siang) kali ini dimanfaatkan sebagian besar untuk menyelesaikan beberapa buku lama (baca: sudah sekian lama dibeli/dipinjam tetapi belum habis dibaca). Buku-buku tersebut adalah :

- About a Boy, karya Nick Hornby
- Kama Sutra, terjemahan versi Indonesia (ga tau siapa yang ngarang)

Wait a minute, tolong jangan langsung fokus ke item no. 2 ya :D .

Sebenarnya masih ada TAIKO, The Historian, buku hadiah ultah dari Tyash juga belum kelar dibaca sejak beberapa bulan lalu, dan juga beberapa buku lainnya. Tapi entah kenapa saya malah baca 2 buku diatas. Tambah lagi, sore ini saya dapat pinjaman “Megatrends 2010 Bangkitnya Kesadaran Kapitalisme” karya Patricia Aburdene. Doh! Kapan ya bacanya?

About a Boy mengisahkan tentang kehidupan seorang pemuda lajang, cukup matang, kaya + avonturir untuk urusan wanita dan seorang anak kecil laki-laki. Karena suatu hal tertentu, dia mendapat ide untuk mencari teman kencan wanita single parent yang sudah memiliki anak. Dia juga mengaku memiliki keluarga yang berantakan, memiliki istri yang lari dengan pria lain, dan juga anak kecil untuk memperkuat akting dan posisi psikologisnya. Dalam suatu waktu, dia bertemu dengan seorang anak usia belasan tahun yang memiliki sifat-sifat menarik namun ketinggalan mode dan sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman sekolahnya. Setting cerita terjadi di London pada tahun 90-an. Secara garis besar, ceritanya cukup menarik, gaya penulis mendeskripsikan berbagai keadaan yang terjadi, set waktu, dan permainan emosi juga bagus, namun sayang saya tidak mendapati adanya konflik yang intens, karena mungkin ceritanya tidak ditujukan untuk hal itu. Atau ini gara-gara saya kebanyakan baca novel thriller dan action ya?

Setelah membaca buku ini saya jadi sedikit teringat masa-masa kecil dahulu yang kurang lebih setting-nya tidak begitu jauh, sekitar akhir 80-an. Alam bawah sadar secara alamiah mencoba membandingkan apa yang dialami anak tersebut dengan apa yang telah saya alami pada kisaran usia yang sama, dan juga membandingkan dengan perilaku anak kecil saat ini. Hasilnya? Jauh beda.

Ya, tentu saja sangat beda. Pada cerita tersebut, si anak bisa dikatakan memiliki pemikiran yang cukup dewasa. Hal ini bisa jadi dikarenakan oleh keadaan lingkungan, terutama keluarganya, dimana dia diasuh oleh seorang ibu, single parent, dengan tingkat ekonomi yang bisa dikatakan pas-pasan untuk ukuran mereka. Sang ibu juga masih berpikiran sederhana, dengan konsep dan pola pikir sedikit ke arah hippies, memiliki kepedulian yang baik terhadap kekayaan alam, lingkungan dan naturalis. Bahkan si anak tampak tidak
memiliki penolakan yang berarti akan pilihan ibunya sebagai vegetarian, dan tampaknya dia juga kadang cukup menikmatinya. Bahkan di usianya tersebut dia maish harus turut menjaga ibunya yang punya kecenderungan untuk bunuh diri. Bandingkan dengan anak jaman sekarang yang kadang manjanya gak ketulungan. Untuk makan saja sering banget musti pilih-pilih. Belum lagi mereka
dihajar dengan berbagai luapan informasi dari berbagai media (terutama televisi) soal jajanan, snack, dan berbagai makanan sampah (junk food). Pernah sekali waktu waktu makan di salah satu warung, saya melihat anak kecil yang ngambek sampe menendang perabotan di warung itu, dan mulai ngomong ga jelas, pake teriak-teriak pula. Duh, kok sampai segitunya ya.

Kembali ke novel tersebut, sang pria, Will, pada awalnya merasa kikuk dengan anak laki-laki tersebut (Marcus), apalagi saat si anak berhasil membuntuti sampai ke flat-nya, membongkar kedok palsu mengenai keberadaan anak dan istrinya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya cukup memahami satu sama lain. Marcus secara terang-terangan mengatakan kepada ibunya (Fiona) bahwa dia membutuhkan figur seorang ayah, yang mana ayah kandungnya sendiri malah dianggapnya sebagai laki-laki yang berengsek dan tidak berguna. Will mampu memberikan keterangan mengenai kondisi-kondisi yang dialaminya, tren saat itu, serta bagaimana bersikap dengan wajar dan natural untuk anak seusianya, serta bagaimana menyikapi lawan jenis pada usianya.

Setelah membaca novel ini saya langsung teringat pada salah satu kakak. Dia memposisikan dirinya yang notabene ayah, sebagai teman dan sahabat bagi anak-anaknya. Memberikan kebebasan yang bertanggung jawab, menanamkan kejujuran dan integritas dengan cara yang unik dan berbeda. Bahkan anak-anaknya pun dibiasakan memanggil dia dengan sebutan TinTin, bukannya bapak, ayah, dan
lain-lain. Alhamdulillah pola didikannya cukup berhasil hingga saat ini.

Ada satu pesan yang disampaikan oleh penulis yang sangat mengena, yaitu tanggung jawab diri kita masing-masing terhadap masyarakat luas. Saya percaya bahwa setiap entitas yang ada di alam semesta memiliki tugas tertentu dan bertanggung-jawab terhadap seluruh alam tanpa kecuali. Di novel ini dikisahkan bahwa kematian Kurt Cobain, vokalis grup band Nirvana yang diberitakan bunuh diri tersebut menimbulkan luapan emosional bagi para penggemarnya. Tak terkecuali Ellie, gadis belasan
tahun teman dekat Marcus. Kematian tersebut mampu membangkitkan emosi liar yang tak terkontrol, dan salah satu pelampiasannya adalah dengan menghancurkan kaca jendela salah satu toko yang dia anggap “menjual kematian Kurt Cobain untuk memperkaya diri sendiri”. Jadi kita sebaiknya hati-hati dalam memilih jalan, bisa jadi diri kita saat ini adalah figur panutan bagi orang lain, bisa anak, istri, teman, kerabat, ataupun orang lain. Terlebih lagi bila diri kita termasuk golongan pesohor, seleb kulit.. euh.. maaf, selebritis, dan semacamnya.

Ah, jadi sedikit bertanya-tanya kepada diri sendiri. Akankah kelak saya bisa menjadi seorang imam keluarga, ayah yang baik untuk putra/putri saya? Insya Allah bisa, dan HARUS BISA. Tapi saat ini langkah selanjutnya ya musti cari pendamping dulu dong.

Kebetulan saat ini masih single, available, and gebet-able. Hehehe, ada yang berminat?
*Pasang tameng, siap2 dapet timpukan dari berbagai arah*

Catatan :
- Kata “makanan sampah” untuk istilah “junk food” adalah istilah saya sendiri. Biar kata kadang-kadang masih makan, tapi sebisa mungkin saya menghindari (kecuali gratisan tentunya :p)
- Maaf ya, buku Kama Sutra tidak dibahas dalam tulisan kali ini. Mungkin untuk tulisan selanjutnya. Mungkin loh, jangan ngarep banget ya ;) p

5 Responses to “Bacaan akhir pekan, About a Boy”

  1. achmadi.net basibanget Says:

    pertamax! btw gue dah nongton pelemnya

  2. achmadi.net rd Limosin Says:

    ada pilemnya toh.

    oh 2002 kmaren. Cari DVD-nya dong

  3. achmadi.net arief Says:

    Aku ada photographic book of kamasutra (asli belinya di India), full warna.
    Tapi gak buat anak kecil Dik.., hehehe ndang nikah dulu gih. Tar boleh lah kalo mau pinjem :P Jadi langsung dipraktikkan di tempat yang benar.

  4. achmadi.net achmadi Says:

    to arief :

    Errr…..,
    Ya deh, gw cari calon bini deh…

    *nunduk sambil puter2 ujung baju*

  5. achmadi.net me_ow Says:

    HP 1 beLum seLese???
    WuaLah… aku ae HP 1-4 udah duwa kaLi baca, HP 5-6 baru satuw kaLi
    PiLemnya (1-4) udah Liyma kaLi Lebih, yang 5 baru atuw kaLi di bioskop
    ehuehehehe ^_^

Leave a Reply