achmadi’s sanctuary: wherever I am, it’s gonna be my sanctuary

Choose a Topic:

Thu
8
May '08

buku kok cuman dipajang

Itulah yang saya alami akhir-akhir ini.

Mungkin saya udah pernah nulis hal yang sama di tulisan sebelumnya, tapi entah kapan itu saya ga tau ( maklum, saya pelupa akut dan juga posisi lagi males nyari ). Tapi eniwei tiba-tiba aja ngerasa kok ya boros banget ya urusan belanja buku. Berhubung lagi nganggur ya udah ngeblog aja soal ini.

Beberapa minggu yang lalu sempat kalap pas kebetulan jalan ma Om Jindol ( yang pas saya nulis ini kayaknya dia lagi jatuh cintrong lagi ) ke Kinokuniya. Eh, minggu setelahnya kalap juga beli 1 buku dan pesen satu buku lagi dari salah satu toko buku favorit di Funan. Belum lagi ditambah hampir aja ngembat 2 buku lagi pas jalan ke lantai 1 weekend kemarin.

Tapi setelah dipikir-pikir, kok ya itu buku-buku sampe sekarang ga banyak dibuka ya, apalagi dibaca. Padahal temanya menarik lo, sebagian emang sesuai dengan kerjaan saya. Tapi 3 buku diantaranya buat pemuas hobi. Setelah diitung-itung total belanja buku sampai dengan minggu kemarin sangat banyak sekali :( . Ga perlu ditulis nominalnya, yang pasti kalo ditotal sih mungkin bisa buat beli henpon baru yang bisa triji, pideo kol, kamera, radio ep-em, sekaligus empetri pleyer.
(more…)

Wed
15
Aug '07

Bacaan akhir pekan, About a Boy

Waktu akhir pekan yang agak panjang (biasanya saya sabtu juga masuk kantor, meskipun cuma sampai jam 12 siang) kali ini dimanfaatkan sebagian besar untuk menyelesaikan beberapa buku lama (baca: sudah sekian lama dibeli/dipinjam tetapi belum habis dibaca). Buku-buku tersebut adalah :

- About a Boy, karya Nick Hornby
- Kama Sutra, terjemahan versi Indonesia (ga tau siapa yang ngarang)

Wait a minute, tolong jangan langsung fokus ke item no. 2 ya :D .
(more…)

Sat
4
Aug '07

Setelah Gajahmada, Candi Murca

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat email dari Kang Langit Kresna Hariadi. Beliau memberitahukan bahwa naskah Candi Murca versi digital sudah bisa dibaca untuk review, setelah sekian lama berkutat mencoba mengunduh file tersebut akhirnya sekitar 2-3 minggu kemarin saya baru bisa berkesempatan membacanya. Gara-gara hal ini saya berkesimpulan bahwa yahoo beta dengan tampilan ala AJAX terbilang suxx. Mau ambil attachment email aja gagal terus, saya pikir ini masalah firewall, tetapi udah coba direct link tanpa halangan apapun teteup aja gak bisa.

Back to topic, seri Gajahmada Candi Murca kali ini memberikan berbagai kejutan dalam plot ceritanya. Dengan setting masa lampau dan masa kini yang saling bertautan, pembaca disuguhi tatanan yang apik, menarik, dengan unsur kejutan dan misteri yang berkesinambungan. Salut sepenuhnya dengan Kang Langit yang sudah bersusah payah menyusun cerita ini berdasarkan berbagai riset dan dokumen yang masih tersisa.

Sebenarnya saya pengen cerita panjang lebar, tetapi nanti malah dikira “spoiler” abis, gak lutju dongs. Secara garis besar ceritanya mengetengahkan mengenai jalinan kisah masa lampau yang mengalami hibernasi, dan harus berlanjut di masa depan dengan alasan tertentu. Tokoh utamanya bisa dikatakan orang yang sama, namun terlahir dalam ranah waktu yang berbeda. Bahasa kerennya titisan. Perjalanan sang tokoh utama di masa lampau dalam menemukan jati dirinya, asal-usul keluarga, diceritakan dengan cukup gamblang dan sederhana. Meskipun masih ada beberapa titik dimana saya bisa menebak arah cerita, namun Kang Langit selalu mencoba menyiapkan kejutan selanjutnya.

Sejak buku Gajahmada pertama, saya berharap novel Kang Langit ada film-nya. Tapi yang jelas saya gak mau ceritanya difilmkan dengan kualitas pas-pasan. Harus bagus ! Sayang banget kalau ceritanya bagus tapi implementasi di filmnya acakadut.

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak kepada Kang Langit yang sudah mau memberikan kepercayaan kepada saya untuk membaca cerita ini sebelum buku aslinya beredar. Secara keseluruhan, buku ini layak untuk dibaca dan dijadikan koleksi.

ps : thanks to Mobipocket yang memungkinkan saya baca e-book di hengpong berbasis symbian

Fri
19
Jan '07

Beli buku asli ? Kenapa tidak ?

Ok, mohon tulisan ini dicermati dan dibaca dengan hati yang tenang, kepala dingin dan sikap yang jujur. Jangan anggap saya sombong, ini cuman tulisan sederhana yang sudah lama pengen keluar cuman belum sempat. Tidak ada data statistik ataupun perhitungan yang mendasari analisis yang tertuang di tulisan ini.

Sekali lagi saya tegaskan bahwa tulisan ini sangat teramat subyektif sekali.

Dunia bajak membajak di Indonesia memang sangat mendarah daging, maaf ini hanya wacana dan tidak ada data analisis yang akurat yang mendasari kalimat barusan, tapi setidaknya hal inilah yang saya rasakan. Selain itu masyarakat Indonesia juga terbiasa menjadi konsumen murni. Bagaimana cara merubah perilaku konsumtif menjadi produktif ? Salah satunya adalah dengan membiasakan budaya untuk selalu belajar tanpa batasan waktu, tempat dan usia. Sumber ilmu dari mana sih ? Buku, internet, kehidupan sosial sehari-hari, dan masih banyak lagi.

Kalau kita selama ini terbiasa untuk menggunakan buku foto kopi sewaktu masih menjadi pelajar/mahasiswa, namun ketika sudah mampu untuk beli buku yang asli kenapa masih saja banyak sekali alasannya ? Ok, memang tidak semua orang memberikan penghargaan terhadap buku dengan sedemikian bagusnya, dan tidak semua orang juga suka membaca. Tapi dengan kita membeli buku, kita secara langsung memberikan kontribusi dan turut serta melancarkan roda ekonomi dan kehidupan bagi banyak orang, mulai dari penulis, penerbit, penjual, dan banyak lagi lainnya.
(more…)